Pelaksanaan Prosedur Sanitasi pada Proses Produksi Yoghurt di PT XYZ
DOI:
https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v5i5.21552Keywords:
industri pangan, keamanan pangan, sanitasi, yoghurtAbstract
Yoghurt adalah produk olahan susu yang diperoleh melalui proses fermentasi menggunakan starter Bakteri Asam Laktat (BAL), seperti Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus. Industri pangan merupakan industri yang krusial bagi kesehatan masyarakat, hal ini menjadikan industri pangan sebagai industri yang selalu berdampingan dengan aspek sanitasi dalam proses produksinya. Penelitian ini menggunakan metode observasi secara langsung yaitu praktik secara langsung di lapangan untuk melihat dan melaksanakan sanitasi pada proses produksi yoghurt di PT XYZ. Dapat disimpulkan bahwa proses-proses kritis seperti pasteurisasi, pendinginan, penambahan starter, dan inkubasi memerlukan perhatian lebih dalam hal sanitasi untuk menjaga kualitas dan keamanan produk akhir. Penerapan prosedur sanitasi seperti sanitasi ruangan, sanitasi peralatan, sanitasi pekerja, dan Fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan dan tempat sampah, masih belum optimal dalam penggunaannya. Penanganan limbah cair dan padat juga belum dilakukan dengan sistem pengolahan yang memadai, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
References
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga. Jakarta: BPOM RI.
Badan Standardisasi Nasional. (2009). SNI 01-2981-2009: Yoghurt. Jakarta: BSN.
Chairunnisa, N., Fathul, F., dan Noor, M. (2017). Kualitas yoghurt berdasarkan tingkat keasaman, aroma, rasa, dan konsistensi. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah, 2(4), 472–481.
Charalampopoulos, D. (2019). Fermented milks and their functional properties. London: Academic Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Pedoman higiene sanitasi makanan dan minuman. Jakarta: Depkes RI.
Harismah, K. (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas yoghurt selama proses fermentasi. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 10(2), 45–52.
Mawarni, A. (2015). Fermentasi yoghurt: Proses pembentukan asam laktat dan CO₂. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(4), 1576–1583.
Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 75/M-IND/PER/7/2010 tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (GMP). Jakarta: Kementerian Perindustrian RI.
Putri, R. A. (2016). Kandungan gizi susu sapi dan manfaatnya bagi kesehatan. Jurnal Kesehatan, 7(1), 23–31.
Sukmawati, I. (2014). Komposisi gizi susu sapi dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Jurnal Gizi dan Pangan, 9(2), 85–92.
Sumiati, T., Dewi, R., dan Yusuf, A. (2013). Sanitasi ruang produksi pangan: Persyaratan langit-langit dan ventilasi. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 23(1), 33–41.
Swacita, I. B. N. (2017). Sanitasi pangan dalam industri pengolahan makanan. Jurnal Kajian Veteriner, 5(1), 37–45.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. (2012). Lembaran Negara RI Tahun 2012 Nomor 227.
Wandling, C., Harmayani, E., dan Kusnandar, F. (1999). Proteolytic activity of Bacillus cereus in milk proteins. Journal of Dairy Science, 82(9), 2035–2041.
Winarno, F. G., dan Suroso, T. (2004). Higiene, sanitasi, dan keamanan pangan. Jakarta: M-Brio Press.
Zain, M., dan Kuntoro, B. (2017). Yoghurt sebagai produk olahan susu fermentasi. Jurnal Teknologi Pangan, 8(1), 12–20.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fira Noviana, Noli Novidahlia

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




