Proses Pengemasan Tempe Segar di Rumah Tempe Indonesia (RTI) Cilendek Bogor Barat, Jawa Barat

Authors

  • Gigin Ginanjar Universitas Djuanda
  • Deni Hendarto Universitas Djuanda

DOI:

https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i10.21615

Keywords:

daun pisang, pengemasan, plastik pp, RTI, tempe

Abstract

Tempe merupakan produk fermentasi khas Indonesia yang memiliki potensi besar sebagai pangan bergizi sekaligus ikon budaya. Indonesia merupakan produsen tempe terbesar di dunia dengan lebih dari 115.000 pengrajin, namun sebagian besar masih menggunakan metode produksi tradisional sehingga mutu dan daya saing produk seringkali belum optimal. Salah satu aspek penting yang memengaruhi kualitas tempe adalah sistem pengemasan, baik dari sisi higienitas, umur simpan, maupun penerimaan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pengemasan tempe segar di Rumah Tempe Indonesia (RTI) Cilendek, Bogor Barat, Jawa Barat, dengan fokus pada jenis kemasan yang digunakan, tahapan pengemasan, serta implikasinya terhadap mutu dan daya saing produk. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi langsung, wawancara dengan karyawan, serta dokumentasi proses produksi dan pengemasan. Data dianalisis secara kualitatif dengan mereduksi, menyajikan, dan menarik kesimpulan dari informasi yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RTI menggunakan tiga jenis kemasan utama, yaitu plastik polipropilen (PP) sebagai kemasan primer, daun pisang untuk produk tradisional tertentu, serta folding carton sebagai kemasan sekunder. Plastik PP lebih efisien untuk distribusi skala besar, sedangkan daun pisang memberikan aroma khas yang disukai konsumen meskipun memiliki umur simpan lebih singkat. Folding carton berperan meningkatkan perlindungan dan daya tarik produk. Kesimpulan dari penelitian ini adalah manajemen pengemasan di RTI berperan strategis dalam menjaga mutu, meningkatkan nilai jual, dan memperkuat citra tempe higienis di pasar. Keterbatasan penelitian adalah sifatnya yang masih deskriptif sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan uji fisik, kimia, dan organoleptik untuk memperkuat data kuantitatif.

References

Astuti, N. P. (2009). Sifat organoleptik tempe kedelai yang dibungkus plastik, daun pisang, dan daun jati. Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Damarasri, D. R., Partiwi, S. G., & Gunawan, J. (2013). Penerapan Good Manufacturing Practice dan Work Improvement in Small Enterprise pada usaha kecil dan menengah untuk pemenuhan standar kesehatan (Studi kasus: UKM Tempe Tenggilis Mejoyo, Surabaya).

Hidayat, N., Kuswanto, A., & Djatnika, A. (2006). Faktor-faktor yang memengaruhi kualitas tempe: aerasi dan kelembaban pada proses fermentasi.

Hutapea, A. N., & Fallo, Y. M. (2017). Analisis kelayakan finansial industri tempe di Kelurahan Oelami, Kecamatan Bikomi Selatan. Jurnal Agrimor, 2(1), 15–16.

RTI. (2019). Data pengrajin tempe di Indonesia. Rumah Tempe Indonesia.

Suprapti, L. (2003). Pembuatan tempe. Kanisius.

Sukardi. (2009). Perkembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di Indonesia. Jurnal Ilmiah Cano Ekonomos, 6(1).

Wijaya, T. (2021). Manajemen kualitas jasa. PT Indeks.

Winanti, S. (2014). Tempe sebagai produk fermentasi khas Indonesia dan potensinya di pasar global.

Downloads

Published

2025-10-07

How to Cite

Ginanjar, G., & Hendarto, D. (2025). Proses Pengemasan Tempe Segar di Rumah Tempe Indonesia (RTI) Cilendek Bogor Barat, Jawa Barat. Karimah Tauhid, 4(10), 8315–8322. https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i10.21615

Most read articles by the same author(s)